Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah
Berdasarkan Prof Dr Koentjaraningrat, peradaban adalah bagian-bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian. Berasal dari bahasa "adab" yang artinya akhlak atau kesopanan atau kehalusan budi pekerti, manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki kesopanan atau budi pekerti.
Membangun peradaban dari dalam rumah artinya kita membangun masyarakat yang berbudi dan memiliki kesopanan. Masyarakat yang dimaksud diawali dari masyarakat dengan ruang lingkup kecil, yaitu keluarga.
Sebagai seorang istri dan calon ibu, saya dan suami bertanggung jawab untuk membangun peradaban di keluarga kami. Tugas yang tidak mudah dan diperlukan ilmu, komitmen, tanggung jawab, kasih sayang, dan kerjasama. Di usia pernikahan kami yang sudah memasuki 6 tahun, saya dan suami masih terus belajar untuk membangun keluarga kecil kami. Pengetahuan mengenai bagaimana membangun peradaban di rumah belumlah saya dapatkan hingga saya bergabung di dalam institusi ibu profesional. Untuk membangun peradaban di rumah, diawali dengan mengenal potensi-potensi diri yang ada di dalam diri seorang istri dan suami. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan paparkan potensi-potensi yang ada di dalam diri saya, beberapa potensi yang saya tulis berdasarkan komentar yang diberikan oleh orang-orang terdekat saya.
- Memiliki kesabaran yang besar
- Pekerja keras
- Suka akan kerapihan atau memiliki "organization skill" yang sangat baik
- Suka belajar
- Memiliki kegigihan
Kegigihan adalah potensi yang saya miliki setelah saya menikah. Di awal-awal pernikahan kami, kami diberi ujian oleh Allah, saya dan suami berusaha untuk melewati setiap ujian yang kami hadapi dan berusaha dengan gigih untuk membuat kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik. Saya percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses.
Saya dan suami memiliki sifat yang bertolak belakang, di awal-awal pernikahan kami, saya sempat berpikir "mengapa saya bisa menikah dengan orang ini". Sifat kami yang bertentangan satu sama lain menimbulkan konflik-konflik dalam keluarga kami, hingga saya pernah berpikir untuk menyerah. Namun, Allah memiliki kehendak lain dan saya percaya bahwa Allah memberikan pasangan sesuai dengan yang saya butuhkan, begitu juga dengan suami saya, saya adalah istri yang memang ia butuhkan. Saat ini saya dapat melihat bahwa saya ditadirkan menikah dengan suami adalah karena Allah berkehendak untuk menjadikan saya sebagi orang yang melengkapi kehidupan suami. Suami saya adalah orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain dan saya sebagai seorang istri mendampingi suami saya dalam setiap pengambilan keputusan dan berusaha untuk memberikan gambaran mengenai dampak positif dan negatif dari setiap keputusan yang diambil demi kebaikan keluarga kami. Pada akhirnya, saya melihat bahwa sayalah yang memang mebutuhkan sosok seperti suami saya dalam kehidupan saya, banyak perubahan yang saya dapatkan setelah saya menikah. Ketika saya berada di posisi terendah atau mengalami kekecawaan terbesar, bahkan kemarahan terbesar daalam hidup saya, suami saya selalu hadir untuk membuat saya lebih baik (hal ini saya masukkan kedalam surat cinta yang saya tulis untuk suami saya).
Lingkungan tempat tinggal saya dan suami adalah lingkungan perumahan dimana setiap orang memiliki kesibukan masing-masing sehingga jarang berinteraksi. Tantangan yang dimiliki adalah kehidupan anak-anak di lingkungan saya yang cenderung bermain dengan gadget mereka dibandingkan bermain dengan sesama. Sikap individualis diantara tetangga juga merupakan tantangan bagi keluarga kami. Sikap tetangga yang cenderung membandingkan kondisi satu dengan yang lainnya juga bagian dari tantangan yang ada di lingkungan kami. Dengan potensi yang saya dan suami miliki saya percaya bahwa saya dapat membangun peradaban di keluarga kami bersama dengan anak-anak kami dan melewati tantangan-tantangan yang ada di lingkungan kami. Suami saya memiliki cita-cita ingin membangun sebuah pondok pesantren dan saya pun mendukungya. Saya percaya bahwa misi keluarga kami atau peran keluarga kami adalah membuat kehidupan di lingkungan kami menjadi lingkungan yang ramah dan memberikan pendidikan yang sesuai dengan syariat islam atau menciptakan suasana yang lebih kekeluargaan antar tetangga. Dimana kami dapat mengadakan pengajian rutin, sehingga tidak ada lagi ibu-ibu yang membicarakan kehidupan orang lain dan membuka perpustakaan gratis bagi anak-anak, sehingga anak-anak tidak lagi bermain denga gadgetnya. Semoga misi keluarga kami dapat terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar