Adab Menuntut Ilmu
Menjadi seorang ibu yang profesional bagi anak - anakku kelak adalah impian saya sejak saya menjadi seorang istri. Walaupun saat ini saya belum dikaruniai keturunan, namun saya ingin belajar untuk menjadi seorang ibu yang profesional agar kelak ketika Allah sudah memberikan kepercayaan kepada saya menjadi seorang ibu, saya siap menjalaninya. Alhamdulillah saat ini ada wadah bagi ibu dan calon ibu untuk belajar menjadi seorang ibu yang profesional, wadah tersebut yang saat ini saya ikuti yang bernama Institut Ibu profesional. Saya sangat bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk belajar di IIP, dan semoga saya bisa menjadi pembelajar yang baik dan bisa menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan serta mengaplikasikannya di kehidupan saya.
Jika kita mendengar tentang menuntut ilmu maka yang terbersit didalam pikiran kita adalah belajar di sebuah institusi atau sekolah dan mendapatkan gelar. Namun, ilmu tidak hanya di dapatkan dari sebuah institusi atau sekolah formal tapi juga dari pengalaman hidup, dimana yang disebut Universitas Kehidupan. Didalam universitas kehidupan kita belajar tentang arti menjadi seorang makhluk Allah, seorang indvidu, dan makhluk sosial. Tidak ada batasan waktu di dalam universitas kehidupan, kita bisa menjadi pembelajar seumur hidup. Dosen atau guru di dalam universitas kehidupan adalah pengalaman hidup dan ujiannya berupa masalah atau cobaan yang kita hadapi. Kita akan lulus dari ujian tersebut jika kita dalam melewati cobaan atau masalah dengan baik. Jika kita ingin "naik kelas" maka kita harus melewati setiap ujian.
Terdapat banyak sekali jurusan di universitas kehidupan ini, jurusan-jurusan tersebut berkaitan dengan kehidupan kita sebagai seorang manusia dan makhluk Allah. Salah satunya adalah jurusan kesabaran dan keikhlasan, jurusan inilah yang saat ini saya ingin tekuni dan pelajari. Alasan dari saya ingin menekuni jurusan ini adalah karena sampai saat ini saya masih belum dapat mengaplikasikan ilmu tersebut dengan baik.
Secara pribadi, sejak saya kecil hingga dewasa saya hidup berkecukupan dan terpenuhi semua kebutuhan, hingga saya lulus dari kuliah saya dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. Sedikit kekecewaan yang yang saya rasakan dikarenakan saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan. Hingga saya menikah, cobaan atau ujian silih berganti menghampiri keluarga kami, yang membuat saya terus menerus mengalami kekecewaan. Seiring berjalannya waktu, saya berusaha untuk melewati setiap ujian atau cobaan dengan ikhlas, hingga akhirnya saya dapat melewatinya.
Dari pengalaman hidup yang saya alami, saya belajar bahwa saya tidak boleh terlalu banyak berharap dari kehidupan ini karena jika saya terlalu banyak berharap, maka semakin besar kekecawaan yang saya rasakan. Hingga sekarang saya berusaha untuk ikhlas dan menerima semua keputusan yang diberikan oleh Allah.
Hingga suatu hari saya berdiskusi dengan salah sorang muridku yang baru berumur 14 tahun. Dia mengatakan bahwa saya tidak boleh berhenti berharap, harapan harus selalu dalam diri kita, yang perlu dipersiapkan adalah keputusan yang diberikan oleh Allah, baik itu keputusan yang sesuai dengan harapan kita, yang tidak sesuai dengan harapan kita, atau menunda harapan kita. Sejak saat itu saya mulai lagi menumbuhkan harapan-harapan dalam diri saya termasuk salah satunya adalah memperoleh keturunan. Namun, dalam hati saya mengatakan "janganlah terlalu banyak berharap daripada kekecewaan yang nantinya kamu dapatkan".
Cobaan yang saya hadapi di universitas kehidupan ini adalah ujian untuk ke tingkat yang lebih tinggi, dan saya masih perlu belajar untuk menerima hasil dari ujian saya baik itu sesuai dengan harapan atau tidak, artinya saya perlu belajar terus untuk menjadi seorang yang sabar dan ikhlas.
Kesabaran dan keihklasan ini juga yang saya yakini akan diperlukan ketika saya menjadi seorang ibu nantinya.
Untuk dapat menuntut ilmu kesabaran dan keihklasan tersebut, saya perlu banyak berdisuksi dengan banyak orang yang sudah mengalami pengalaman hidup lebih banyak dari saya dan tidak terus-menerus membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Saya juga perlu belajar dari seorang guru yang bisa memberikan pengarahan dan contoh bagaimana menerapkan kesabaran dan keihklasan. Dan yang terpenting sebagai seorang muslim saya perlu banyak belajar dari Al Qur'an karena saya percaya semua ujian atau cobaan yang Allah berikan pasti memiliki jawaban yang terdapat di dalam Al Qur'an.
Setelah saya belajar mengenai adab menuntut ilmu di IIP, saya mendapatkan banyak pembelajaran mengenai adab seorang pembelajar terhadap ilmu yang ia tekuni ataupun terhadap guru yang memberikan ilmu tersebut.
Perubahan sikap yang saya perbaiki setelah saya belajar mengenai adab menuntut ilmu adalah saya tidak boleh dengan bebas memberikan atau menyebarkan ilmu yang saya dapatkan dari seorang guru tanpa izin guru tersebut ataupun tanpa mencantumkan sumbernya. Hal tersebut terkadang saya lewati ketika saya menyampaikan suatu ilmu kepada murid-murid saya di sekolah.
Sebagai seorang guru di sekolah, saya juga adalah murid di universits kehidupan ini yang perlu banyak belajar dan menuntut ilmu hingga akhir hayat.
"Menuntut Ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah, mengulang-ulang ilmu adalah zikir, mencari ilmu adalah jihad" (Imam AL Ghazali)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar