Jumat, 16 Februari 2018

Harapan


Harapan


Hingga saat ini ilmu yang masih saya ingin kuasai adalah ilmu sabar dan ikhlas serta bersyukur. Saya juga ingin belajar bagaimana caranya mencintai diri sendiri dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri. Saya merasa ilmu-ilmu tersebut masih belum saya kuasai dengan baik karena saya belum dapat menerapkannya dalam kehidupan ini. Seringkali saya masih merasa kecewa, sedih, dan marah ketika harapan atau impian saya tidak terwujud. Bahkan saya sempat terpikir apa mungkin Allah tidak suka dengan saya sehingga segala doa dan harapan saya tidak Ia dengar. Hingga di titik, dimana saat ini saya takut untuk memiliki impian atau harapan karena saya takut kecewa. Yang saya lakukan saat ini adalah bagaimana saya bisa melewati hari ini dan mendapatkan hari yang lebih baik di esok hari. Sinar matahari yang muncul di pagi hari selalu memberikan harapan kepada saya bahwa esok akan menjadi lebih baik. Saya ingin belajar untuk tidak berharap kepada manusia dan selalu berharap kepada Allah dan menerima segala keputusan yang Allah berikan. Tidak pernah membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain, juga termasuk kedalam daftar ilmu yang harus saya pelajari. Berat dan memerlukan waktu untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut, rasa putus asa seringkali muncul dalam diri saya. Namun, seperti matahari pagi yang tidak pernah lupa untuk terbit dan memberikan sinarnya, maka saya percaya bahwa hari esok akan lebih baik.





Beberapa checklist harian sudah saya jalankan dengan konsisten seperti menjalankan ibadah sholat duha setiap pagi, bagun pagi setiap hari walaupun di hari libur, menyelesaikan bacaan minimal satu buku satu bulan, dan tadarus Al Qur’an minimal satu kali satu hari. Untuk checklist jangka panjang masih dalam proses perjuangan untuk mewujudkannya dan semoga perjuangan tersebut dapat membuahkan hasil. Seperti nasihat yang diberikan oleh Pak Dodiki kepada Ibu Septi “Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” Saya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan checklist jangka panjang dalam hidup saya dan saya yakin bahwa saya akan mendapatkan hasil dengan kesungguhan saya tersebut. Sedangkan checklist saya sebagai seorang istri masih dalam proses untuk menjalankannya dengan konsisten, kesibukan suami di luar rumah dan terbatasnya waktu yang kami miliki membuat saya kesulitan untuk menjalankan checklist saya, tapi saya harus belajar bersabar dan bersyukur dan saya harus yakin bahwa suatu saat nanti saya bisa mewujudkan semua checklist saya sebagai seorang istri. Checklist saya sebagai seorang ibu akan saya wujudkan ketika saya sudah mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk memperoleh keturunan dan menjadi seorang ibu. Saat ini saya sedang bersungguh-sungguh untuk mewujudkan harapan saya menjadi seorang ibu, semoga saya bisa mendapatkan hasil dari kesungguhan saya.




Sampai di detik ini saya masih belum menemukan maksud Allah menciptakan saya ke dunia ini, rasa kekecewaan dan putus asa yang seringkali muncul dari diri saya membuat saya merasa bahwa menjadi manusia yang tidak berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Saya pun merasa bahwa belum bisa memberikan sesuatu kepada orang-orang yang saya cintai, belum dapat membuat mereka bahagia dan bangga kepada saya. Misi hidup saya saat ini adalah untuk mencintai diri saya sendiri, bidang yang perlu saya kuasai adalah bangga kepada diri sendiri, jangan pernah menyesal dengan apa yang sudah dilakukan, “kamu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, kamu sudah melakukan yang terbaik, apa yang sudah kamu lakukan adalah yang terbaik dari dirimu” itu yang perlu saya sampaikan kepada diri saya saat ini.




Ilmu yang perlu saya kuasai untuk menyelesaikan misi saya adalah sabar, ikhlas, dan bersyukur. Ketiga hal tersebut yang perlu saya kuasai untuk dapat mencintai diri saya sendiri. Seperti matahari yang tidak pernah lupa untuk memberikan sinarnya di setiap pagi hari, maka Allah tidak akan pernah lupa untuk memberikan nikmatnya kepada setiap umatnya dan hari ini pasti akan menjadi lebih baik dari hari esok. Misi kedua dalam hidup saya adalah melihat suami dan ibu saya bahagia dan bangga kepada saya.



Milestone yang perlu saya lakukan untuk membuat saya mencintai diri saya sendiri adalah:

  • KM 0 - KM 1 (1 bulan) : Kurangi rasa kecewa dan mulai mensyukuri setiap apa yang dialami. Setiap hari lakukan yang terbaik dan tidak mengharapkan balasan.
  • KM 1 - KM 2 (1 tahun) : Memperbaiki hubungan dengan ayah dan kakak beserta keluarganya.
  • KM 2 - KM 3 (1 tahun): Mulai rajin berolah raga dan menjaga pola hidup sehat untuk menjaga tubuh agar tetap sehat, karena jika kita memiliki tubuh yang sehat makan kita akan dapat melakukan sesuatu dengan baik dan muncul rasa percaya diri sehingga akan lebih mudah untuk mencintai diri sendiri.
  • KM 3 - KM 4 (2 tahun): Kembangkan terus potensi yang ada dalam diri dan terus belajar hal-hal yang baru, seperti meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris (untuk memantaskan diri ketika harus melanjutkan sekolah ke luar negeri), mulai belajar memasak (untuk memantaskan diri menjadi istri kebanggaan suami dan ibu kebanggaan anak-anak kelak), dan menggali terus ilmu pendidikan dan mendidik anak.
  • KM 4 - KM 5 (3 tahun): Melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi (menuntut ilmu yang nantinya akan diterapkan dan diamalkan di dalam kehidupan).
  • KM 5 - KM 6 (4 tahun): Menguasai ilmu menjadi perempuan solehah dan mejalankan peran sebagai seorang istri dan ibu yang solehah.

Sabtu, 10 Februari 2018

Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah


Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

      Berdasarkan Prof Dr  Koentjaraningrat, peradaban adalah bagian-bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian. Berasal dari bahasa "adab" yang artinya akhlak atau kesopanan atau kehalusan budi pekerti, manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki kesopanan atau budi pekerti.

       Membangun peradaban dari dalam rumah artinya kita membangun masyarakat yang berbudi dan memiliki kesopanan. Masyarakat yang dimaksud diawali dari masyarakat dengan ruang lingkup kecil, yaitu keluarga. 

       Sebagai seorang istri dan calon ibu, saya dan suami bertanggung jawab untuk membangun peradaban di keluarga kami. Tugas yang tidak mudah dan diperlukan ilmu, komitmen, tanggung jawab, kasih sayang, dan kerjasama. Di usia pernikahan kami yang sudah memasuki 6 tahun, saya dan suami masih terus belajar untuk membangun keluarga kecil kami. Pengetahuan mengenai bagaimana membangun peradaban di rumah belumlah saya dapatkan hingga saya bergabung di dalam institusi ibu profesional. Untuk membangun peradaban di rumah, diawali dengan mengenal potensi-potensi diri yang ada di dalam diri seorang istri dan suami. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan paparkan potensi-potensi yang ada di dalam diri saya, beberapa potensi yang saya tulis berdasarkan komentar yang diberikan oleh orang-orang terdekat saya. 


  • Memiliki kesabaran yang besar
Berdasarkan pendapat orang-orang terdekat, saya adalah orang yang memiliki kesabaran yang besar. Hal ini mungkin disebabkan karena saya terjun di dalam dunia pendidikan dan lebih dari 10 tahun mengajar anak-anak dan remaja, sebagian dari mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga pekerjaan saya melatih saya untuk bersabar. Walaupun dalam beberapa hal saya adalah orang yang tidak suka menunggu.
  • Pekerja keras
Saya adalah pekerja keras, dimana ketika saya diberikan sebuah amanah atau tanggung jawab, terutama di bidang pekerjaan, saya akan bersungguh-sungguh untuk menjalankannya dengan baik. Saya termasuk orang yang tidak suka jika saya tidak dapat menyelesaikan pekerjaan.
  • Suka akan kerapihan atau memiliki "organization skill" yang sangat baik
Saya menilai diri saya sendiri adalah orang yang sangat teratur. Saya selalu mengatur barang-barang saya dengan sangat rapi dan terorganisir. Saya juga suka membuat jadwal kegiatan atau tugas yang harus saya selesaikan. Namun, dibalik potensi ini ada kelemahan yang saya miliki, karena saya suka semuanya teratur dengan rapi dan terencana, jika ada yaang tidak sesuai dengan rencana, maka saya akan mudah marah dan kecewa. Saya sedang belajar untuk menerima hasil yang tidak sesuai dengan kita rencanakan, karena semua hasil akhir ditentukan oleh Allah, manusia hanya bisa berencana.
  • Suka belajar
Saya suka belajar hal-hal yang baru, saya berusaha untuk mengisi hari-hari saya dengan belajar sesuatu yang baru. Saya memiliki keinginan untuk terus belajar dan menuntut ilmu.
  • Memiliki kegigihan
Kegigihan adalah potensi yang saya miliki setelah saya menikah. Di awal-awal pernikahan kami, kami diberi ujian oleh Allah, saya dan suami berusaha untuk melewati setiap ujian yang kami hadapi dan berusaha dengan gigih untuk membuat kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik. Saya percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses.

      Saya dan suami memiliki sifat yang bertolak belakang, di awal-awal pernikahan kami, saya sempat berpikir "mengapa saya bisa menikah dengan orang ini". Sifat kami yang bertentangan satu sama lain menimbulkan konflik-konflik dalam keluarga kami, hingga saya pernah berpikir untuk menyerah. Namun, Allah memiliki kehendak lain dan saya percaya bahwa Allah memberikan pasangan sesuai dengan yang saya butuhkan, begitu juga dengan suami saya, saya adalah istri yang memang ia butuhkan. Saat ini saya dapat melihat bahwa saya ditadirkan menikah dengan suami adalah karena Allah berkehendak untuk menjadikan saya sebagi orang yang melengkapi kehidupan suami. Suami saya adalah orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain dan saya sebagai seorang istri mendampingi suami saya dalam setiap pengambilan keputusan dan berusaha untuk memberikan gambaran mengenai dampak positif dan negatif dari setiap keputusan yang diambil demi kebaikan keluarga kami. Pada akhirnya, saya melihat bahwa sayalah yang memang mebutuhkan sosok seperti suami saya dalam kehidupan saya, banyak perubahan yang saya dapatkan setelah saya menikah. Ketika saya berada di posisi terendah atau mengalami kekecawaan terbesar, bahkan kemarahan terbesar daalam hidup saya, suami saya selalu hadir untuk membuat saya lebih baik (hal ini saya masukkan kedalam surat cinta yang saya tulis untuk suami saya).

         Lingkungan tempat tinggal saya dan suami adalah lingkungan perumahan dimana setiap orang memiliki kesibukan masing-masing sehingga jarang berinteraksi. Tantangan yang dimiliki adalah kehidupan anak-anak di lingkungan saya yang cenderung bermain dengan gadget mereka dibandingkan bermain dengan sesama. Sikap individualis diantara tetangga juga merupakan tantangan bagi keluarga kami. Sikap tetangga yang cenderung membandingkan kondisi satu dengan yang lainnya juga bagian dari tantangan yang ada di lingkungan kami. Dengan potensi yang saya dan suami miliki saya percaya bahwa saya dapat membangun peradaban di keluarga kami bersama dengan anak-anak kami dan melewati tantangan-tantangan yang ada di lingkungan kami. Suami saya memiliki cita-cita ingin membangun sebuah pondok pesantren dan saya pun mendukungya. Saya percaya bahwa misi keluarga kami atau peran keluarga kami adalah membuat kehidupan di lingkungan kami menjadi lingkungan yang ramah dan memberikan pendidikan yang sesuai dengan syariat islam atau menciptakan suasana yang lebih kekeluargaan antar tetangga. Dimana kami dapat mengadakan pengajian rutin, sehingga tidak ada lagi ibu-ibu yang membicarakan kehidupan orang lain dan membuka perpustakaan gratis bagi anak-anak, sehingga anak-anak tidak lagi bermain denga gadgetnya. Semoga misi keluarga kami dapat terwujud.
        

Jumat, 02 Februari 2018

Profesionalisme Perempuan




Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan
Related image

Hakikatnya perempuan memiliki banyak peran di dunia ini, diantaranya sebagai seorang individu, sebagai istri, dan sebagai seorang ibu. Peran yang saya jalankan saat ini adalah sebagai seorang individu dan sebagai seorang istri, berharap nantinya saya dapat memiliki peran sebagai seorang ibu.Berikut saya paparkan checklist indikator profesionalisme perempuan yang saya buat untuk diri saya sendiri. Semoga checklist indikator profesionalisme ini dapat membantu saya menjadi seorang yang lebih baik sesuai dengan peran yang saya jalankan.

1. Sebagai individu
  • Melanjutkan sekolah S2 dengan jurusan Science di Universitas dalam atau luar negeri di tahun 2018-2019.
  • Mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah S2 dari LPDP atau Austalian Awards di tahun 2018-2019.
  • Konsisten melakukan ibadah sunah sholat duha setiap pagi.
  • Mulai berolah raga minimal seminggu sekali dengan bersepeda.
  • Bagun pagi di setiap hari walaupun di hari sabtu dan minggu.
  • Menyelesaikan bacaan minimal satu buku dalam waktu 1 bulan.
  • Tadarus Al Qur'an minimal sehari sekali.
2. Sebagai istri
  • Menyiapkan minuman setiap pagi untuk suami.
  • Sholat berjamaah setiap sholat maghrib, isya, dan subuh.
  • Menyiapkan sarapan minimal seminggu 4 kali.
  • Menyiapkan air putih setiap suami pulang malam.
  • Menyiapkan pakaian ketika suami tugas keluar kota.
  • Belajar memasak masakan kesukaan suami sampai akhir tahun 2018.
  • Mengaji bersama suami minimal seminggu satu kali.
  • Membereskan tempat tidur setiap pagi dan menyiapkan tempat tidur setiap malam.
3. Sebagai ibu. Saat nantinya saya menjadi seorang ibu, indikator yang akan saya buat untuk menjadi seorang ibu yang profesional adalah:
  • Memberikan ASI eksklusif selama 2 tahun.
  • mengajarkan anak untuk mulai menggunakan alat makan sendiri di usia 3 tahun.
  • Setiap malam membacakan buku cerita sebelum tidur.
  • Tidak memberikan gadget kepada anak sebelum usia masuk sekolah.
  • Ketika anak sudah mulai masuk sekolah, menemani anak belajar setiap hari.
  • Mulai mengajarkan anak berbahasa Inggris dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris ketika anak sudah masuk usia sekolah.
  • Sebulan sekali mengajak anak untuk mengunjungi museum.
  • Menyiapkan sarapan atau bekal makan siang untuk anak setiap hari.
  • Mengantarkan anak sekolah di hari pertama sekolah.
  • Jika anak berbuat kesalahan tidak memarahi anak di depan orang lain atau saudaranya.
  • Mengaji bersama minimal setiap malam.
Masih banyak seklai checklist indikator untuk menjadi perempuan profesional, baik sebagai seorang individu, ibu, dan istri. Yang saya paparkan disini hanyalah sebagian kecil saja. Saya berharap saya dapat memenuhi semua daftar checklist tersebut. Yang menarik sebelum saya membuat tulisan ini adalah ketika saya bertanya kepada suami mengenai indikator seorang istri untuk dapat membuatnya bahagia, ia berkata "hanya satu, yaitu nurut dan menjadi diri sendiri". Jawaban tersebut membuat saya bingung di awal namun saya kemudian berpikir bahwa suami saya tidak banyak menuntut dari saya dan menerima saya apa adanya. Menjadi seorang istri dan ibu adalah bagian dari siklus kehidupan, namun menjadi seorang istri dan ibu yang profesional adalah pilihan dari setiap perempuan.





Jumat, 26 Januari 2018

Adab menuntut ilmu



Adab Menuntut Ilmu
Image result for adab menuntut ilmu 

Menjadi seorang ibu yang profesional bagi anak - anakku kelak adalah impian saya sejak saya menjadi seorang istri. Walaupun saat ini saya belum dikaruniai keturunan, namun saya ingin belajar untuk menjadi seorang ibu yang profesional agar kelak ketika Allah sudah memberikan kepercayaan kepada saya menjadi seorang ibu, saya siap menjalaninya. Alhamdulillah saat ini ada wadah bagi ibu dan calon ibu untuk belajar menjadi seorang ibu yang profesional, wadah tersebut yang saat ini saya ikuti yang bernama Institut Ibu profesional. Saya sangat bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk belajar di IIP, dan semoga saya bisa menjadi pembelajar yang baik dan bisa menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan serta mengaplikasikannya di kehidupan saya. 

Jika kita mendengar tentang menuntut ilmu maka yang terbersit didalam pikiran kita adalah belajar di sebuah institusi atau sekolah dan mendapatkan gelar. Namun, ilmu tidak hanya di dapatkan dari sebuah institusi atau sekolah formal tapi juga dari pengalaman hidup, dimana yang disebut Universitas Kehidupan. Didalam universitas kehidupan kita belajar tentang arti menjadi seorang makhluk Allah, seorang indvidu, dan makhluk sosial. Tidak ada batasan waktu di dalam universitas kehidupan, kita bisa menjadi pembelajar seumur hidup. Dosen atau guru di dalam universitas kehidupan adalah pengalaman hidup dan ujiannya berupa masalah atau cobaan yang kita hadapi. Kita akan lulus dari ujian tersebut jika kita dalam melewati cobaan atau masalah dengan baik. Jika kita ingin "naik kelas" maka kita harus melewati setiap ujian. 

Terdapat banyak sekali jurusan di universitas kehidupan ini, jurusan-jurusan tersebut berkaitan dengan kehidupan kita sebagai seorang manusia dan makhluk Allah. Salah satunya adalah jurusan kesabaran dan keikhlasan, jurusan inilah yang saat ini saya ingin tekuni dan pelajari. Alasan dari saya ingin menekuni jurusan ini adalah karena sampai saat ini saya masih belum dapat mengaplikasikan ilmu tersebut dengan baik. 

Secara pribadi, sejak saya kecil hingga dewasa saya hidup berkecukupan dan terpenuhi semua kebutuhan, hingga saya lulus dari kuliah saya dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. Sedikit kekecewaan yang yang saya rasakan dikarenakan saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan. Hingga saya menikah, cobaan atau ujian silih berganti menghampiri keluarga kami, yang membuat saya terus menerus mengalami kekecewaan. Seiring berjalannya waktu, saya berusaha untuk melewati setiap ujian atau cobaan dengan ikhlas, hingga akhirnya saya dapat melewatinya. 

Dari pengalaman hidup yang saya alami, saya belajar bahwa saya tidak boleh terlalu banyak berharap dari kehidupan ini karena jika saya terlalu banyak berharap, maka semakin besar kekecawaan yang saya rasakan. Hingga sekarang saya berusaha untuk ikhlas dan menerima semua keputusan yang diberikan oleh Allah.

Hingga suatu hari saya berdiskusi dengan salah sorang muridku yang baru berumur 14 tahun. Dia mengatakan bahwa saya tidak boleh berhenti berharap, harapan harus selalu dalam diri kita, yang perlu dipersiapkan adalah keputusan yang diberikan oleh Allah, baik itu keputusan yang sesuai dengan harapan kita, yang tidak sesuai dengan harapan kita, atau menunda harapan kita. Sejak saat itu saya mulai lagi menumbuhkan harapan-harapan dalam diri saya termasuk salah satunya adalah memperoleh keturunan. Namun, dalam hati saya mengatakan "janganlah terlalu banyak berharap daripada kekecewaan yang nantinya kamu dapatkan". 

Cobaan yang saya hadapi di universitas kehidupan ini adalah ujian untuk ke tingkat yang lebih tinggi, dan saya masih perlu belajar untuk menerima hasil dari ujian saya baik itu sesuai dengan harapan atau tidak, artinya saya perlu belajar terus untuk menjadi seorang yang sabar dan ikhlas.

Kesabaran dan keihklasan ini juga yang saya yakini akan diperlukan ketika saya menjadi seorang ibu nantinya. 


Untuk dapat menuntut ilmu kesabaran dan keihklasan tersebut, saya perlu banyak berdisuksi dengan banyak orang yang sudah mengalami pengalaman hidup lebih banyak dari saya dan tidak terus-menerus membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Saya juga perlu belajar dari seorang guru yang bisa memberikan pengarahan dan contoh bagaimana menerapkan kesabaran dan keihklasan. Dan yang terpenting sebagai seorang muslim saya perlu banyak belajar dari Al Qur'an karena saya percaya semua ujian atau cobaan yang Allah berikan pasti memiliki jawaban yang terdapat di dalam  Al Qur'an.

Setelah saya belajar mengenai adab menuntut ilmu di IIP, saya mendapatkan banyak pembelajaran mengenai adab seorang pembelajar terhadap ilmu yang ia tekuni ataupun terhadap guru yang memberikan ilmu tersebut.

Perubahan sikap yang saya perbaiki setelah saya belajar mengenai adab menuntut ilmu adalah saya tidak boleh dengan bebas memberikan atau menyebarkan ilmu yang saya dapatkan dari seorang guru tanpa izin guru tersebut ataupun tanpa mencantumkan sumbernya. Hal tersebut terkadang saya lewati ketika saya menyampaikan suatu ilmu kepada murid-murid saya di sekolah.


Sebagai seorang guru di sekolah, saya juga adalah murid di universits kehidupan ini yang perlu banyak belajar dan menuntut ilmu hingga akhir hayat. 



"Menuntut Ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah, mengulang-ulang ilmu adalah zikir, mencari ilmu adalah jihad" (Imam AL Ghazali)




 

Harapan

Harapan Hingga saat ini ilmu yang masih saya ingin kuasai adalah ilmu sabar dan ikhlas serta bersyukur. Saya juga ingin belajar bagaim...

Adab Menuntut Ilmu